Search
Close this search box.
Rakyat Sulawesi Jasa Pembuatan dan penayangan Artikel berita Seo

Kenapa Sekarang Turbulensi Jadi Lebih Sering Terjadi?

Mengapa turbulensi sering terjadi saat ini meski cuaca cerah? (Foto: Pexels/Pixabay)

Sejak beberapa waktu lalu, dunia dikejutkan dengan peristiwa turbulensi parah yang dialami maskapai Singapore Airlines.

Para penumpang menggambarkan kejadian tersebut sangat dramatis dan kacau balau. Penerbangan pesawat SQ321 yang membawa 229 penumpang dan awak itu, awalnya berjalan normal.

Namun tiba-tiba, pesawat yang tengah terbang dari London ke Singapura ini menukik tajam dari ketinggian pada ketinggian 37.000 kaki dari London ke Singapura.

Selain SQ, beberapa hari kemudian, Qatar Airways juga mengalami turbulensi. Penerbangan QR017 dengan Boeing 787 Dreamliner ini terbang dari Doha ke Dublin dan berhasil mendarat dengan selamat.

Baca Juga: 10 Rute Penerbangan dengan Turbulensi Terhebat di Dunia

Apa itu turbulensi?
Umumnya, turbulensi terjadi karena pertemuan udara pada temperatur, tekanan, atau kecepatan yng berbeda satu sama lain.

Selain itu, fenomena guncangan di pesawat juga bisa terjadi karena faktor cuaca dan geografis, misalnya saat pesawat melintasi badai petir, awan, dan pegunungan.

Meski biasanya faktor cuaca buruk jadi penyebab paling umum untuk turbulensi, di tengah cuaca cerah gangguan ini juga bisa terjadi.

Dan Bubb, mantan pilot yang kini menjadi ahli sejarah penerbangan di University of Nevada mengungkapkan, fenomena ini disebut sebagai clear-air turbulence.

Kepada Mashable, dia menyebut, clear-air turbulence disebabkan oleh ketidakstabilan udara akibat pesawat komersil yang terkadang terbang di altitude yang lebih tinggi.

Turbulensi bisa terjadi kapan saja termasuk di cuaca cerah (Foto: Unsplash/ Aleksei Zaitcev)

Sesuai namanya, clear-air turbulence ini terjadi di cuaca yang cerah maka ‘bahaya’ ini tak terlihat dari kokpit dan bahkan tak terdeteksi di radar cuaca di pesawat.

Marco Chan, mantan pilot komersial dan dosen penerbangan di Buckinghamshire New University mengungkapkan bahwa melintasi beberapa area juga bisa menyebabkan fenomena ini, misalnya melintas di atas Teluk Benggala.

“Insiden Singapore Airlines terjadi di zona konvergensi antartropis, di mana badai petir lebih sering terjadi.”

“Badainya sendiri muncul di navigasi pilot, tapi seringkali tidak mungkin bisa sepenuhnya menghindari gugus badai yang bisa membentang lebih dari 50 mil di atas laut,” katanya dikutip dari Guardian.

Baca Juga: Daftar 50 Restoran Terbaik di Dunia 2024

Krisis Iklim Global
Lebih jauh dari penyebab alam seperti cuaca buruk, peneliti dari University of Reading menyebut bahwa saat ini krisis iklim global menjadi penyebab banyaknya turbulensi.

Dalam jurnal Nature, Paul Williams, sang peneliti menyebut bahwa temperatur bumi yang semakin memanas karena global warming akan berkontribusi pada peningkatan turbulensi pesawat.

Mengutip Smithsonian, dalam studi yang dimuat di Advancing Earth and Space Sciences pada 2023, menyebut ada 55 persen peningkatan kasus turbulensi sejak 1979-2020.

Baca Juga: Marriott Buka Resor Baru di Lampung

Clear air turbulence saat ini diprediksi bakal lebih sering terjadi (Foto: Unsplash/Ross Parmly)

“Saya hanya bilang, jika Anda merasakan 10 menit turbulensi di masa lalu, maka bisa jadi meningkat 20-30 menit di masa depan,” katanya.

Williams mengatakan bahwa peningkatan frekuensi kasus ini hampir pasti terjadi karena pengaruh perubahan iklim yang memperkuat jet stream (aliran angin yang bergerak sangat cepat dan berkelok seperti sungai) yang menyebabkan turbulensi.

Di atmosfer, udara yang lebih hangat akan menampung banyak uap air. Ini akan menyebabkan suhu jadi lebih panas dan perbedaan suhu udara makin tinggi.

Udara yang lebih hangat kini meningkatkan jumlah pergeseran angin, perbedaan kecepatan angin pada ketinggian yang berbeda di dalam jet stream.

Ketika pesawat berada di dekat jet stream maka risiko turbulensi akan terjadi. 

Para peneliti juga memperkirakan bahwa turbulensi parah akan meningkat dibanding frekuensi ringan dan sedang di masa mendatang.

Sejak beberapa waktu lalu, dunia dikejutkan dengan peristiwa turbulensi parah yang dialami maskapai Singapore Airlines.

Para penumpang menggambarkan kejadian tersebut sangat dramatis dan kacau balau. Penerbangan pesawat SQ321 yang membawa 229 penumpang dan awak itu, awalnya berjalan normal.

Namun tiba-tiba, pesawat yang tengah terbang dari London ke Singapura ini menukik tajam dari ketinggian pada ketinggian 37.000 kaki dari London ke Singapura.

Selain SQ, beberapa hari kemudian, Qatar Airways juga mengalami turbulensi. Penerbangan QR017 dengan Boeing 787 Dreamliner ini terbang dari Doha ke Dublin dan berhasil mendarat dengan selamat.

Baca Juga: 10 Rute Penerbangan dengan Turbulensi Terhebat di Dunia

Apa itu turbulensi?
Umumnya, turbulensi terjadi karena pertemuan udara pada temperatur, tekanan, atau kecepatan yng berbeda satu sama lain.

Selain itu, fenomena guncangan di pesawat juga bisa terjadi karena faktor cuaca dan geografis, misalnya saat pesawat melintasi badai petir, awan, dan pegunungan.

Meski biasanya faktor cuaca buruk jadi penyebab paling umum untuk turbulensi, di tengah cuaca cerah gangguan ini juga bisa terjadi.

Dan Bubb, mantan pilot yang kini menjadi ahli sejarah penerbangan di University of Nevada mengungkapkan, fenomena ini disebut sebagai clear-air turbulence.

Kepada Mashable, dia menyebut, clear-air turbulence disebabkan oleh ketidakstabilan udara akibat pesawat komersil yang terkadang terbang di altitude yang lebih tinggi.

Turbulensi bisa terjadi kapan saja termasuk di cuaca cerah (Foto: Unsplash/ Aleksei Zaitcev)

Sesuai namanya, clear-air turbulence ini terjadi di cuaca yang cerah maka ‘bahaya’ ini tak terlihat dari kokpit dan bahkan tak terdeteksi di radar cuaca di pesawat.

Marco Chan, mantan pilot komersial dan dosen penerbangan di Buckinghamshire New University mengungkapkan bahwa melintasi beberapa area juga bisa menyebabkan fenomena ini, misalnya melintas di atas Teluk Benggala.

“Insiden Singapore Airlines terjadi di zona konvergensi antartropis, di mana badai petir lebih sering terjadi.”

“Badainya sendiri muncul di navigasi pilot, tapi seringkali tidak mungkin bisa sepenuhnya menghindari gugus badai yang bisa membentang lebih dari 50 mil di atas laut,” katanya dikutip dari Guardian.

Baca Juga: Daftar 50 Restoran Terbaik di Dunia 2024

Krisis Iklim Global
Lebih jauh dari penyebab alam seperti cuaca buruk, peneliti dari University of Reading menyebut bahwa saat ini krisis iklim global menjadi penyebab banyaknya turbulensi.

Dalam jurnal Nature, Paul Williams, sang peneliti menyebut bahwa temperatur bumi yang semakin memanas karena global warming akan berkontribusi pada peningkatan turbulensi pesawat.

Mengutip Smithsonian, dalam studi yang dimuat di Advancing Earth and Space Sciences pada 2023, menyebut ada 55 persen peningkatan kasus turbulensi sejak 1979-2020.

Baca Juga: Marriott Buka Resor Baru di Lampung

Clear air turbulence saat ini diprediksi bakal lebih sering terjadi (Foto: Unsplash/Ross Parmly)

“Saya hanya bilang, jika Anda merasakan 10 menit turbulensi di masa lalu, maka bisa jadi meningkat 20-30 menit di masa depan,” katanya.

Williams mengatakan bahwa peningkatan frekuensi kasus ini hampir pasti terjadi karena pengaruh perubahan iklim yang memperkuat jet stream (aliran angin yang bergerak sangat cepat dan berkelok seperti sungai) yang menyebabkan turbulensi.

Di atmosfer, udara yang lebih hangat akan menampung banyak uap air. Ini akan menyebabkan suhu jadi lebih panas dan perbedaan suhu udara makin tinggi.

Udara yang lebih hangat akan meningkatkan jumlah pergeseran angin, perbedaan kecepatan angin pada ketinggian yang berbeda di dalam jet stream.

Ketika pesawat berada di dekat jet stream maka risiko turbulensi akan terjadi. 

Para peneliti juga memperkirakan bahwa turbulensi parah akan meningkat dibanding frekuensi ringan dan sedang di masa mendatang.

The post Kenapa Sekarang Turbulensi Jadi Lebih Sering Terjadi? appeared first on DestinAsian Indonesia.

Berita Terkait Lainnya

Intur-2024-PC-1
simkel
krl
Hotel-Exterior-1
5ff58ee3-fc93-42fe-b773-f3b6c5a71591-1-1
DSC1404-1
Rental Motor Jambi dengan Rating Terbaik dan Tips Memilihnya
5 Tips Manajemen Waktu Agar Menjadi Lebih Efektif
3 Cara Mengatasi Rasa Sakit Gigi Melalui Pijatan
5 Cara Menghilangkan Rasa Malas dan Mengendalikannya
Panduan Lengkap Puisi Maulid Nabi
Pengertian Proposal, Fungsi, Tujuan, Unsur dan Macam-Macam Bentuk Proposal Terlengkap
Soal Luas Permukaan Balok
Pengertian Tuas atau Pengungkit, Rumus, Macam Macam dan Contoh Tuas Lengkap
Asripan Nani Lantik Pengurus BAZNAS Kotamobagu Periode 2023-2028
Resmi! La Ode Darwin Diusung Partai NasDem Tarung Pilkada Mubar 2024
Yudhianto Mahardika Dapat Dukungan Emak-emak Gemoy dan Kerabat
Dapat Dukungan Parpol, Calon Bupati Sumarling Majja Pastikan Tarung Pilkada Kolaka Utara 2024-2029 
05-31-24_GHIW_Villa-Patio-Rendering__thumbnail_2-1
Tepis Isu yang Beredar, La Ode Asrafil: Saya Tetap Solid Bersama Bachrun Labuta di Pilkada Muna
9 Rekomendasi Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi, Solusi Terbaik untuk Masalah Tulang dan Cedera
Partai Perindo Berikan Surat Tugas ke Yudhianto Mahardika Maju Cawalkot Kendari
Intur-2024-PC-1
Festival Indonesia Bertutur Digelar Agustus 2024
simkel
Jadwal dan Lokasi SIM Corner Sleman Terbaru Bulan Juni 2024, Cek Syarat Perpanjangan di Sini
krl
Jadwal KRL Jogja-Solo Terbaru Bulan Juni 2024, Cek Infonya di Sini
Hotel-Exterior-1
Nostalgia Gedung Hotel Kolonial Tua di Jakarta
Jelang Pitch Black 2024, TNI AU dan Angkatan Udara Australia Gelar Final Planning Conference
Jelang Pitch Black 2024, TNI AU dan Angkatan Udara Australia Gelar Final Planning Conference
Prabowo Terima Kunjungan Kehormatan Menlu Singapura
Prabowo Terima Kunjungan Kehormatan Menlu Singapura
Dugaan Penyebab Tentara AS Meninggal di Hutan Karawang
Dugaan Penyebab Tentara AS Meninggal di Hutan Karawang
Jerman Tangkap Tiga Orang Terduga Mata-mata Cina
Jerman Tangkap Tiga Orang Terduga Mata-mata Cina
Dinas PU Makassar
Dinas PU Makassar
Kontainer Digembok, Warga Butung Sesalkan Sikap Lurah Butung Kota Makassar
Kontainer Digembok, Warga Sesalkan Sikap Lurah Butung Kota Makassar
8 Proyek Jalan Dinas Pekerjaan Umum Kota Makassar Jadi Temuan BPK
8 Proyek Jalan Dinas Pekerjaan Umum Kota Makassar Jadi Temuan BPK
Jukir Liar di Kota Makassar "Sulit Dibedakan"
Jukir Liar di Kota Makassar "Sulit Dibedakan"