Dinas Peternakan Kab Gowa Berupaya Sukseskan Program IB

Gowa – Rakyat Sulawesi,- meski teknologi Inseminasi Buatan ( kawin suntik) sudah berjalan cukup lama namun penerimaan petani ternak masih kurang.Inseminasi Buatan secara komersial sudah dilakukan semenjak tahun 1975, oleh karena terjadinya produktifitas dan reproduktifitas ternak hasil Inseminasi buatan dengan sistim silang ditambah persilangan antar Sapi Lokal dan Sapi Impor yang diharapkan dapat mendongkrak peningkatan mutu genetis dan produktifitas sapi lokal melalui pemulihan (grading up).tujuan program IB adalah selain meningkatkan populasi dan kualitas daging juga sebagai upaya dalam menggenjot hasil produksi dalam upaya mewujudkan swasembada daging

Dinas Peternakan,kelautan dan perikanan melaui kepala Seksi Penyebaran dan pengembangan Ternak Kab.Gowa Muh.Chaerul Aswar,S.PT ┬ápada tanggal 23 juni 2014 didalam ruangannya mengutarakan “Dengan inseminasi buatan ada hal yang menguntungkan diantaranya seperti, kita tidak memelihara ternak jantan, mencegah kawin sedarah, menghindari kecelakaan saat perkawinan dan menghindari ternak dari segala macam penyakit”, terangnya.

Bacaan Lainnya

Selain itu, Chaerul juga menambahkan untuk menerapkan IB, tentu kita harus tahu kapan sapi itu datang masa birahi kalau inseminasi tidak tepat tentu terjadi kelainan untuk itu kita perlu pelatihan-pelatihan, punya labor dan sebagainya adapun Bibit sapi Unggulan melalui IB diantara lain Brangus,Simmental,brahman,limousin,bali dan ongole,sebelumnya bibit sapi untuk dilakukan IB sudah teruji dan terseleksi.

” teknologi Inseminasi Buatan ( kawin suntik) sudah berjalan cukup lama diKab.Gowa,akan tetapi saat ini kami belum mencapai target,ini dikarenakan hingga tahun ini baru 13 Orang dengan hasil produksi IB hanya 366 dari dan itu belum mencapai 1% dari target Pemerintah Pusat yang mengharuskan Hasil dari IB 50% : 50% dengan hasil dari kawin Alam” tandasnya.

Selain keterbatasan tenaga, menurut Muh. Chaerul, salah satu kendala terbesarnya saat ini juga dikarenakan Pola Fikir Masyarakat dan ketersediaan atau tata cara pemeliharaan Hewan Ternak. “Saat ini, Masyarakat kita lebih senang memelihara Hewan Ternaknya dengan mengembalakannya, sementara untuk menerapkan IB itu sendiri, Sapi tersebut harus dikandangkan agar tidak liar, dan juga keterbatasan anggaran dimana untuk mengirim petugas kami mengikuti pelatihan di Pulau Jawa, sangat mahal biayanya, namun saat ini kami telah berupaya semaksimal mungkin agar para Peternak kita di Kab Gowa dapat memahami cara menerapkan IB dengan mengikut sertakan mereka namun tetap harus di awasi oleh Insiminator Handal kami”, ungkap Muh. Chaerul. Laporan dan Photo: Edison.

Pos terkait