Allianz Indonesia Dukung Peningkatan Literasi Keuangan yang Berkelanjutan

RAKYATSULAWESI - , JAKARTA – Menutup Bulan Inklusi Keuangan 2023, Allianz Indonesia kembali membuktikan wujud komitmen perusahaan dalam upaya akselerasi peningkatan indeks literasi dan inklusi

Facebook
Twitter
WhatsApp

JAKARTA – Menutup Bulan Inklusi Keuangan 2023, Allianz Indonesia kembali membuktikan wujud komitmen perusahaan dalam upaya akselerasi peningkatan indeks literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia secara berkelanjutan.

Komitmen tersebut juga merupakan salah satu bentuk dukungan Allianz yang selaras dengan visi-misi regulator beserta para pelaku industri jasa keuangan untuk memperluas akses produk keuangan masyarakat, salah satunya digaungkan dalam Puncak Bulan Inklusi Keuangan 2023, yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan mengusung tema ‘Akses Keuangan Merata, Masyarakat Sejahtera’.

Hadir dalam acara puncak FinExpo 2023 di Yogyakarta, Komisaris Independen Allianz Life Syariah Indonesia, Tirta Segara dan Direktur Legal & Compliance Allianz Life Indonesia, Hasinah Jusuf.

Hasinah mengungkapkan bahwa Allianz Indonesia mendukung penuh upaya OJK untuk mendongkrak tingkat literasi dan inklusivitas keuangan di seluruh lapisan masyarakat Indonesia, termasuk untuk penyandang disabilitas.

“Allianz Indonesia mendukung penuh fokus utama serta langkah-langkah regulator dalam mengakselerasi indeks literasi dan inklusi keuangan di kalangan masyarakat Indonesia. Kami selalu berupaya menghadirkan inovasi-inovasi yang berguna bagi perluasan literasi, serta akses perlindungan dan layanan asuransi untuk semua kalangan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, agar lebih banyak masyarakat terproteksi dan dapat mencapai kemerdekaan finansial untuk masa depan bangsa yang lebih baik,” ucap Hasinah.

Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2022  OJK ,indeks literasi keuangan masyarakat telah menyentuh 49,68 persen, angka tersebut menunjukkan adanya peningkatan yang cukup pesat dibandingkan 2019 yaitu 38,03 persen. Indeks literasi asuransi mengalami peningkatan secara signifikan ke angka 31,72 persen, dari 19,4 persen di tahun 2019.

Sementara itu, tingkat inklusi keuangan masyarakat di tahun 2022 tercatat sebesar 85,10 persen, meningkat dibandingkan dengan 76,19 persen di tahun 2019. Di sisi lain, tingkat inklusi asuransi bertumbuh tipis dari 13,15 persen di tahun 2019, menjadi 16,63 persen di tahun 2022.

Pada acara puncak Bulan Inklusi Keuangan, OJK mencanangkan Sinergi Akselerasi Keuangan Inklusif bagi Penyandang Disabilitas dan memberikan Apresiasi kepada Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) yang menjadi penggerak keuangan inklusif bagi penyandang disabilitas, dimana salah satunya adalah Allianz Indonesia.

Sebelumnya, Allianz Indonesia telah mendukung kegiatan edukasi keuangan bagi penyandang disabilitas yang diselenggarakan oleh OJK secara offline dan online pada Agustus lalu di Jakarta. Allianz Indonesia juga telah mengimplementasikan layanan berasuransi yang ramah disabilitas sesuai dengan POJK Nomor 6/POJK.07/2022, tentang Perlindungan Konsumen dan Masyarakat di Sektor Jasa Keuangan, yakni PUJK mempunyai tanggung jawab untuk mendukung penyediaan layanan khusus kepada konsumen penyandang disabilitas dan lanjut usia.

Literasi Asuransi Sejak Dini

Berangkat dari empat pilar tanggung jawab sosial perusahaan, yang salah satunya berfokus pada bidang pendidikan, Allianz Indonesia juga berkolaborasi dengan institusi-insitusi pendidikan di berbagai daerah untuk melakukan literasi finansial bagi kaum pelajar.

Tahun ini, selain melakukan literasi finansial kepada pelajar menengah atas di Bandung, Allianz Indonesia juga melaksanakan kegiatan literasi finansial bagi pelajar SMA di Yogyakarta.

Allianz Indonesia melakukan kegiatan literasi finansial menggunakan Allianz SmartPlan Board Game yang merupakan simulasi edukasi dengan cara yang menyenangkan. Melalui game tersebut, peserta mendapatkan edukasi mengenai tata kelola arus kas, mengatur pengeluaran untuk berbelanja, memahami perbedaan antara kebutuhan dengan keinginan, pentingnya menabung dan berasuransi untuk mengantisipasi risiko terganggunya kondisi keuangan, serta memahami jenis-jenis aset yang produktif.

“Melalui simulasi pembelajaran ini, Allianz Indonesia berupaya untuk mengedukasi para pelajar dalam menentukan serta mencapai tujuan keuangan di masa depan secara bijak,” ungkap Hasinah. Dia tambahkan bahwa melalui upaya-upaya inovatif yang telah dilakukan, Allianz Indonesia senantiasa menargetkan lebih banyak lagi pelajar dan kalangan masyarakat lainnya untuk memiliki tingkat literasi dan inklusi keuangan yang lebih baik lagi.

Dalam menyemarakkan Bulan Inklusi Keuangan, Allianz Indonesia senantiasa meningkatkan kegiatan edukasi baik untuk literasi keuangan maupun inklusi keuangan, tidak hanya untuk masyarakat luas dan nasabah Allianz saja namun juga untuk karyawan Allianz Indonesia.

Baru-baru ini dalam acara NGOBRAZ (Ngobrol Bareng Allianz Citizens) dengan menghadirkan pembicara yang kompeten di bidangnya untuk memberikan pemahaman bagi karyawan di tengah maraknya berbagai tantangan pengelolaan keuangan masa kini seperti cara menghindari jeratan Pinjaman Online dan Tips Bebas Finansial dengan Frugal Living.

Hidup dalam kesederhanaan di tengah arus gaya hidup modern masyarakat urban yang penuh tekanan, godaan, dan tuntutan untuk mengejar standar hidup tertentu memang sangat menantang untuk dijalankan. Apalagi godaan terbesar adalah serangan konsumerisme di kalangan kaum muda untuk membeli berbagai macam hal yang disediakan pasar.

Keputusan untuk berbelanja pun lebih didorong oleh keinginan, dan bukan lagi atas dasar kebutuhan. Bahkan dalam perlombaan gaya hidup masyarakat urban, batas antara keinginan dan kebutuhan menjadi makin transparan lantaran persaingan antarkelas sosial begitu dinamis, yang memacu setiap orang untuk terus mengejar standar hidup tertentu.

Fenomena ini terjadi karena faktor digitalisasi dan paparan media sosial. Media sosial memiliki peran besar dalam membentuk mindset, opini, dan lifestyle. Inilah yang membuat sebagian besar orang berpikir untuk menyesuaikan standar yang terlihat di media sosial.

Pada akhirnya banyak yang cenderung memaksakan dengan berbagai cara demi memenuhi hasrat dan standar tersebut demi ingin terlihat ‘Crazy Rich’ padahal tidak sepadan dengan kondisi kantong, sehingga mengambil keputusan untuk berhutang. Ditambah lagi kehadiran metode pembayaran cicilan kartu kredit atau paylater maupun platform pinjaman online (pinjol) yang semakin marak dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan.

Bahkan berdasar data dari OJK untuk pengaduan periode 1 Januari sampai dengan Agustus 2023, pengguna pinjol ilegal itu paling banyak karyawan swasta. Terkait dengan kondisi tersebut, Head Investment Communications Allianz Indonesia, Meta Lakhsmi, mengingatkan karyawan untuk selalu menyadari risiko yang lebih besar jika terjerat pinjol. Menurutnya, banyak yang tidak menyadari ketika terjerat atau terjadi gagal bayar pinjol, risiko yang lebih besar sebenarnya sudah menanti di depan.

“Beberapa contoh risikonya adalah memberatkan tujuan finansial keluarga atau penolakan pengajuan KPR. Selain itu, apabila sang peminjam baru memasuki usia produktif, dia bisa kesulitan mendapatkan beasiswa dan gagal bayar pinjol juga bisa mengakibatkan kendala pada saat proses recruitment untuk mencari pekerjaan, karena sering kali perusahaan menghindari karyawan baru yang terlibat gagal bayar hutang. Bahkan untuk beberapa kasus anggota keluarga juga bisa terkena imbasnya contoh ikut dikejar-kejar penagih utang,” tegas Meta.